Dyani…
Seorang perempuan asal Bekasi yang kukenal di facebook dalam sebuah grup kepenulisan. Sebelum aku melihat PPnya kukira Dyani itu seorang cowok, ternyata cewek
Kami baru kenal beberapa bulan di jejaring sosial facebook. Dia memenangkan kuis yang kuadakan di grup Diskusi Fiksi.Menulis Fiksi. Membaca Fiksi atau yang dikenal dengan sebutan kelas Cendol (Cerita-Menulis dan Diskusi Online). Setelah bertukar nomor ponsel, chating YM dan sering berbalas komentar di grup itu, kami semakin dekat dan menemukan chemistry, hingga perasaan itu tumbuh di antara kami. Perasaan yang merupakan sebuah nama belakang julukanku… Cinta.
Di hari ulang tahunku, aku nekad memberikan kejutan padanya dengan mendatangi rumahnya di Bekasi berbekal alamat yang pernah ia kirimkan padaku untuk pengiriman hadiah. Sebelumnya kami pernah bertemu di acara launching buku antologi terbaruku “Dua Sisi Susi” di Jambodroe Cafe Jakarta. Tapi kami belum sempat banyak berbincang dan berfoto
Kemudian tepat di hari ulang tahunku, aku yang berasal dari Bandung ini ‘menipunya’. Kami smsan seolah aku sedang di rumah dan pura-pura sedang sakit padahal pagi itu sekitar jam 9an aku sedang menuju ke rumahnya. Dan setelah aku sampai ke rumahnya, ia kaget dan langsung kabur begitu melihatku di balik jendela rumah. Ia kabur ke kamar mandi karena ia belum siap menerima kehadiranku dengan keadaan yang kucel
Aku bertemu ayahnya dan mengobrol banyak sambil menunggu Neng (panggilan sayangku buat Dyani) mandi.
“Aa ngobrol dulu ya sama Papa aku. Ih, dasar tukang bo’ong. Kirain beneran lagi sakit!” smsnya saat aku mengobrol dengan calon mertuaku
Dan selesai mandi, Papanya mempersilakanku untuk mengobrol dengan Neng Dyani. Akupun diajaknya ke perpustakaan kecil milik Neng yang ada di samping rumahnya. Sambil diiringi lagu yang jazzy, aku melihat-lihat koleksi buku-bukunya yang cukup banyak.
Kemudian saat ngobrol itu dari siang hingga sore, aku memberinya sebuah kado. Ya, benar. Meski aku yang sedang ulang tahun, tapi akulah yang memberinya kado. Dan ia memang sudah tau sifatku yang aneh dan gila. Isi kadonya pun simpel, hanya sebuah novel Pengamen Cinta, beberapa lembar masker wajah dan sebungkus permen pelega tenggorokan (karena beberapa hari sebelumnya ia sempat mengeluh sakit tenggorokan).Dan semua hadiah itu kubungkus dalam sebuah box plastik transparan bekas wadah CD (Celana Dalam).
Tak cukup satu kado, akupun membawa hadiah lain yang belum kubungkusi dengan kertas kado. Yaitu… sebuah adonan cireng. Benar, adonan cireng jajanan khas dari Bandung yang juga merupakan mata pencaharian almarhum Bapakku. Kami sekeluarga ini hidup dari pekerjaan almarhum Bapak yang menjalani profesinya sebagai pedagang cireng selama lebih dari empat puluh tahun hingga akhir hayatnya
Kemudian, karena Neng Dyani sama-sama gilanya denganku, ia mengambil kertas kado yang kebetulan dijual Papanya di warung kecil depan rumah. Hal itu seperti simbolis tak langsung, cireng yang dijual Bapakku dibungkus kertas kado yang dijual Papanya. Mungkin ini pertanda awal bahwa orangtuaku dan orangtuanya kelak akan berbesan’
Lalu saat penyerahan dua buah kado itu, kami yang narsis ini berfoto di perpustakaan dengan memakai webcam laptop Neng Dyani, saat Papanya sedang pergi keluar rumah.

Kado yang kuberikan mungkin tak seberapa. Tapi hari itu, aku menyatakan cintaku pada Neng Dyani dan Neng memberikan kado terindahnya padaku. Sebuah kado yang lebih berharga dari semua kado ultah yang pernah kuterma, yaitu… cintanya…
Sampai saat menulis ini, kami masih berpacaran dan aku makin mencintai Neng. Lihatlah ekspresi kami di foto itu yang terlihat saling mencintai. Semoga kelak, aku bisa memberinya kado dan juga sebaliknya, setelah kami resmi menjadi suami istri. Karena kado itu, bagi kami hanyalah cinta…
***
Tulisan ini diikutsertakan dalam Lomba Ekspresi Seru dBlogger




Comments
wah wah keren ceritanya…
Hwaaa, ini serius??
Kukira Papa dan Mama Dyani hanya bohongan
Well, semoga Papa dan Mama bisa sampai ke pelaminan ya.. Amin
Serius lah -_-’